Brajadenta, putra Pringgondani yang mbalela

Brajadenta adalah putra ketiga Prabu Arimbaka, adik Prabu Arimba dan Dewi Arimbi dari Pringgandani.

Ia sering mewakili Dewi Arimbi dalam tampuk pimpinan  negara, karena kakaknya yang menjadi ratu tersebut kerap kali berada di Jodhipati mengikuti Bima, suaminya.

Makin lama timbulah pikirannya untuk merebut pemerintahan negara dan menguasai Pringgondani seara mutlak. Brajadenta kemudian memberontak dengan dalih bahwa jabatan raja tidak dapat dipegang dan diserahkan kepada seorang wanita, sebab bukti telah menunjukkan dengan jelas.

Pemberontakan ini mendapat bantuan dari adik-adiknya yang bernama Brajamusti, Brajalamatan dan Brajawikalpa, tetapi mendapat tentangan dari adiknya yang lain bernama Prabakesa dan Kalabendana.

Akhirnya pemberontakan dapat dihentikan oleh Gatotkaca, putra Dewi Arimbi dengan Bima. GAtotkaca kemudian dinobatkan menjadi Raja di Pringgondani atas penyerahan kekuasaan dari ibunya.

Artik kata Brajadenta adalah bersenjatakan gading. Dalam lakon Gatotkaca Kembar, Brajadenta berhasil mengadakan hubungan asmara dengan Dewi Banowati, permaisuri Prabu Duryudana di Astina dengan menyamar menjadi Gatotkaca. Brajadenta mati oleh Gatotkaca  dan merasuk ke dalam gigi Gatotkaca menjadi senjata. Sejak itu kesaktian Gatotkaca bertamah, siapa yang terkena gigit pasti akan binasa.

Dari Buku, Ensiklopedi Wayang Purwa I [Compendium]

World Puppet

Informasi seputar dunia pewayangan

Erawati, putri Mandaraka yang hilang

Dewi Erawati adalah putri sulung Prabu Salya, raja negara M

....

Brajadenta, putra Pringgondani yang mbalela

Brajadenta adalah putra ketiga Prabu Arimbaka, adik Prabu Arimba da

....

JATAYU

Garuda Jatayu adalah putra resi Briswawa.

....

1157 M

Kitab ini mengisahkan perang besar antara Pandawa dan Kurawa. Menurut R. M. Sayid kisah ini sebagai sindiran perang antara kerajaan Panjalu dan Jenggala. DIkarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada pemerintahan Prabu Jayabaya. Sengkalan yang menandai adalah sanga kuda cuddha candrama (1079 Saka atau 1157 Masehi). Pada tahun 1903 kitab tersebut diterbitkan dengan huruf jawa oleh Dr. Gunning sedangkan terjemahan dalam bahasa jawa diterbitkan pada tahun 1934 dalam majalah Jawa No 1 tahun XIV.